Jejak-Jejak Sejarah Asal Usul Panjang Kapal Pinisi, Bangga Laut Nusantara

Daftar Isi

 

Sejarah Asal Usul Kapal Pinisi

PROSAFE.CO.ID - Tidak banyak yang tahu bahwa catatan tertua mengenai kehadiran kapal layar yang kelak dikenal sebagai pinisi berasal dari sebuah artikel di majalah Belanda, Koloniale Studiën, pada 1917. Artikel itu menyebutkan penampakan “sekunar kecil dengan tali-temali ala Eropa”.

Pemukiman nelayan di ujung selatan Sulawesi ternyata sudah lama menjadi sentra pembuatan perahu. 

Catatan lain dari abad ke-17 menyebut Bira sebagai galangan kapal utama Kesultanan Makassar karena kedekatan dengan hutan Bulukumba yang kaya akan beragam jenis kayu kuat.

Sementara itu, kode etik pelayaran Bugis abad ke-17, Amanna Gappa, juga mencerminkan tradisi pelaut handal yang sudah melayari seantero Nusantara jauh sebelum Belanda datang. 

Para leluhur pelaut ini bahkan sudah memiliki aturan terperinci dalam maritime trade and commerce, termasuk pembagian hasil dagang dan upah pelayaran.

Legenda Sawerigading hingga Campur Tangan Asing

Asal muasal penamaan pinisi sendiri dikelilingi cerita rakyat yang turun temurun. Salah satu yang paling populer adalah legenda La Galigo tentang Sawerigading, yang kapalnya karam di perairan Selayar, Sulsel.

Konon puing-puing kapal itu terdampar dan dikumpulkan oleh penduduk setempat sebagai cetak biru perahu pertama mereka. 

Ada pula riwayat pinisi bermula dari teguran seorang asing pada nahkoda kapal di Bira soal rancangan layarnya. 

Atas saran itu warga setempat mendesain ulang layar yang kemudian dikenal luas sebagai layar pinisi.

Sayang, tidak satupun legenda ini yang didukung bukti faktual ataupun tertulis. Namun apapun asal-usulnya, kawasan Teluk Bontobahari di pesisir barat Sulsel memang sudah lama diketahui sebagai basis tradisi pembuatan dan pengoperasian kapal layar Nusantara.

Evolusi Kapal Toop, Padewakang, dan Palari

Sejarah mencatat munculnya beberapa “nenek moyang” kapal pinisi sebelum ia mendapat penamaan resminya. 

Antara lain kapal Toop pada 1700-an yang menunjukkan pengaruh Eropa, kapal Padewakang abad ke-18 yang mendominasi perdagangan di kawasan timur, hingga kapal Palari sekitar 1930-an.

Deskripsi resmi pertama kali muncul dalam Ensiklopedia Hindia Belanda, yang menyebut bentuk pinisi mirip kapal sekunar dari Bali yang dibuat oleh perajin Bugis dan banyak ditemukan di perairan Sulawesi Selatan dan Kalimantan. 

Catatan pelayaran Belanda mencatat ukuran pinisi terbesar pada 1860 berkisar 17 meter dengan kapasitas 50 ton, milik saudagar Belitung bernama Soe Hin.

Identitas Pinisi sebagai Kapal Layar Asli Indonesia

Evolusi kapal layar Nusantara berlanjut hingga memasuki abad modern. Pada pertengahan abad ke-20, model kapal Palari sudah jauh berubah mengadaptasi gaya bangunan kapal Barat.

Kapal dengan lambung jenis ini kemudian dikenal luas sebagai “pinisi” karena menggunakan tiang layar khas dan temali cabang ala Sulawesi. 

Penyebaran nama resmi pinisi sendiri cukup lambat. Istilah itu baru muncul dalam pemberitaan koran Singapore tahun 1986, dan di Indonesia sekitar 1960-an.

Namun jejak panjangnya telah mengantarkan pinisi menjadi primadona laut Nusantara, bahkan diakui sebagai warisan budaya tak benda umat manusia oleh UNESCO. 

Tiada kapal layar lain yang lebih layak menyandang gelar Kapal Nasional Indonesia selain armada pinisi yang telah berpetualang ke seantero samudera dunia ini.

Demikian ulasan singkat seputar sejarah panjang kapal layar pinisi, dari cikal bakal hingga status legendarisnya sebagai kebanggaan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.***